Tampilkan postingan dengan label Bahasa Kasih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Kasih. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

Sajak Kinasih


Langgas

kemerdekaan ini harus kumulai dari mana
sebab, gabuk rasanya
hanya ada aku yang di dunia ini
semestaku sendiri

pernah dahulu aku menjadi juita
kejelitaanku dirayakan ribuan sambungan nafas
dan longlongan yang pekik
tiap itu berulang,
hatiku terkampai pada ketersinggahan masa
dan ia lekas bergerak meninggalkanku yang tak menyegera 

kegelapan adalah kehampaan udara
memerasnya dari paru-paru
nafasku selalu tersengkal dalam ketiadaan cahaya
sejurus aku keluar dari kenihilan,
segalanya segera menjelma liyan

celah di antara ruang dunia
membuat ketersendirian menjadi mudah
aku menyelinap pada periuk
yang membebaskanku dari dahaga sejarah
merdeka itu melangkah tanpa sisik melik
menumpuk akal pada imaji yang tak ada keliru

selamanya hanya diriku,
dan liyan yang menggusar kemerdekaan 

Krapyak, menutup April 2012



Meera


Aku kembali mengejamu
Merapali lagi jejak-jejak lama
aku terpaku pada senyummu
yang mulia dan ceria

Mee, cintaku tak pernah selesai dilucuti
Suatu saat kamu mesti mengerti
Pada setiap yang rumit
Ada jalan untuk mengurai

Sepasang mata indahmu, nanti
Menyaksikan gembala meniup seruling
Dengan nada ngilu
Di bumi lainnya,
Halilintar disoraki
Sebab ia menghantarkan air
Pada kebun-ladang yang menghampar

tatap yang lurus,
Mulailah, Mee, dengan pertanyaan

Kerudungmu, Meer, betulkanlah
Berkerudung sejak dalam pikiran
Dengan ilmu dan kebijaksanaan

Lantaran, Meera..

Pada masamu,
Dunia adalah hutan antah berantah
Air sukar, banjir berita keruh
Manusia berubah menjadi merah
Menelanjangi takwa dari imannya

Kembalilah, di antaranya
Pada puisi, mengantarkanmu
pada masa kedamaian masih bisa dijumpai
temuilah, ia tersibak
dalam hati yang halus dan selamat

GP,  Desember 2011



Musikalisasi Puisi


Pada garis-garis pantai yang basah
Ombak menyerah
Semampunya pasir ia jabat
Ditarik sebutir-sebutir

Lima kaki dari garis itu
Tak peduli terik
Debur ombak membalut suaramu
Seluruhnya terdengar seperti puisi
Segala nada yang mampu dicipta alam
Ombak, angin, dan pasir
Menyertaimu, serupa musikalisasi puisi

Romantisme ini tak selalu butuh senja
Juga tatapan cakrawala
Seperti perahu nelayan
Ia tetap perahu meski tanpa air
Berlayar atau diam di atas pasir

Maka kini,
Jika aku kembali menapaki garis pantai
Membelah rimbunan cemara laut
Dan menyeberang laguna
Keindahannya tetap niscaya
Tapi alunannya tak dapat lagi jadi musik
Sebab tak ada kamu, wahai puisi

Pantai Lembupurwo, 28 Sya'ban



Senin, 03 September 2012

Menuju Jalan Sunyi

Tulisan ini terlalu kerdil untuk menjelaskan hal-hal besar. Tapi biar saja, biar dunia tahu sekerdil ini saya.

Sejak kecil, kita sudah menyerap dogma agama. Tuhan itu bernama. Kita diajari cara menyembahNya. Kita dperkenalkan ada sederet macam agama yang diakui di Indonesia. Dalam isi dogma itu, kisah surga dan neraka tak pernah alpa. Orang yang percaya pada Tuhan akan diselamatkan dari siksa neraka dan masuk ke dalam surga. Ketentuan surga atau neraka dinilai dari raport amal yang dikerjakan oleh Malaikat. Bagi saya ketika itu, surga dan neraka adalah pembeda yang paling jelas antara yang benar dan yang salah. Tapi lantas dengan tubuh yang masih mungil, saya bertanya pada Ibu, kalau surga dan neraka masih dibuktikan di akhirat kelak, bagaimana kalau agama yang kita peluk ini salah? Dalam kondisi kami misal, bagaimana kalau  Islam ternyata tidak mengantarkan kita pada surga? Ibu pun menjawab dengan bijak, 'itu mengapa kita perlu iman'.

Jawaban itu tidak bisa membuat saya puas. Bagi saya, beriman kepada Tuhan dengan nama tertentu atau memeluk agama tertentu rasanya serupa judi. Tapi kegelisahan itu lekas-lekas saya tepis. Saya masih takut dengan neraka. Maka saya teruskan iman saya dengan menerima segala dogma yang ditanamakan.

Pertanyaan itu lantas terbesit lagi ketika mulai duduk di bangku kuliah. Entah apa yang membuat saya kembali gelisah. Bagi saya, kebenaran Tuhan dan agama mana yang paling benar memang tak bisa ditentukan di dunia. Mau seperti apa kita saling mengkafirkan, tak ada yang punya bukti empiris atas kebenaran keberadaan Tuhan. Alam mungkin ayat (tanda) keberadaan Tuhan yang paling gamblang. Tapi mekanisme alam bekerja masih terus diperdebatkan.

Semasa MI, saya suka nonton VCD Harun Yahya. Salah satu serinya ingin mematahkan Teori Darwin. Darwin, para Darwinis, beserta Darwinismenya disebut sebagai penganut materialisme. Mereka meniadakan peran Tuhan dalam mekanisme kerja alam semesta. Alam mengorganisasi dirinya sendiri. Materialisme ini mengukur hanya yang empiris, hanya yang tampak, hanya yang wujud kasat mata. Mungkin bagi mereka, Tuhan tak empiris, Tuhan tiada.

Stepehen Hawking baru-baru ini juga menerbitkan buku 'Grand Design', Rancang Agung. Saya belum baca bukunya. Dari sejumlah review yang saya baca, Hawking beragumen bahwa dalam dunia ini terdapat sejumlah pola kerja. Pola-pola ini terwujud dalam kehidupan, tapi hanya sedikit pola saja yang cenderung  mendominasi. Darwin dan Hawking sama-sama ilmuwan dan filsuf. Mereka mencari kebenaran melalui bukti-bukti empiris. Sah saja apa yang mereka kemukakan. Itu mesti dinilai, diverifikasi atau difalsifikasi dengan bukti empiris juga. Membantah bukti empiris dengan dogma agama tentu tidak adil. Keduanya berada di dua ranah berbeda. Ilmu pengetahuan ada di ranah empiris, sementara agama ada di ranah transenden. Dalam beberapa hal, agama dan ilmu pengetahuan saling bertemu. Tapi, perdebatan untuk membuktikan Tuhan, bagi saya, ini tidak akan bisa tuntas. Atau memang tidak untuk dituntaskan. Tidak boleh tuntas.

Ketidaktuntasan itu diselamatkan oleh iman yang nurani memilihnya di bawah petunjuk Tuhan yang tidak kunjung tuntas diperdebatkan. Saya mesti mengingat bahwa sekuat apapun iman, tetap saja kita ini lemah yang hanya Tuhan sendiri nanti yang mampu menuntaskan pengetahuan tentang dirinya di hadapan kita. Kata Gus Dur, Tuhan tidak perlu dibela. Tuhan yang beri petunjuk, jangan sesatkan manusia lain dengan melabelinya sesat. Tahan ilmu turun derajat sebagai alat kekuasaan, memperalat nama Tuhan.

Seperti sufi, jalan paling nyaman adalah menarik diri dari hiruk pikuk perdebatan tentang Tuhan. Padahal kita hanya sedang memperdebatkan pikiran kita sendiri tentang Tuhan. Tuhan adalah di luar segala pemikiran kita tentangNya. Bertemu Tuhan dalam sunyi, berkemanusiaan dalam riuh damai. Semampunya.

Sekarang hanya ada aku dan kamu bersama menuntaskan hidup kemanusiaan sebaik-baiknya. Di sisa zaman, bantah tebakan malaikat yang sebelumnya terlanjur benar, manusia suka menumpahkan darah.

Duh, urip mung mampir ngeblog..

Tulisan ini:
Dimulai 6/2/11
Ditutup 3/9/12

Minggu, 13 Mei 2012

Janji Fajar dan Senja

oleh: Nabilah Munsyarihah

Aku selamanya menemui senja dan tak pernah bertatap muka dengan fajar. Aku senantiasa dengan deburan ombak dan kamu diselimuti kabut. Di antara kita terbujur rasi bintang yang membentuk anak panah. Rumpun bintang itu bukan menggantung di langit, melainkan melayang di atas jalanan kota. Ujung anak panah itu mengarah pada kamu berada, di kaki sebuah gunung perkasa.

Suatu saat kita tak sengaja bertemu di tengah kota yang langit-langitnya serupa aurora. Kita tak sengaja duduk berdua di bawah kanopi. Wajahku sesendu senja dan senyummu menyimpan kerling fajar. Bulan terasa sangat dekat dengan bumi. Ombak mulai pasang dan mata kita saling berpapasan.

Kita berkenalan dengan gugup lalu berjalan bersama dengan salah tingkah. Kita mengunjungi sebuah menara kunang-kunang. Kunang-kunang muda berwarna kehijauan dan yang tua kuning menyala. Sehari semalam kita bersama menatap kunang-kunang melayang di atas kepala lalu jelang fajar kelompok kunang-kunang itu jatuh satu per satu dan tak pernah bangkit lagi.

Menara itu dekat tempat tinggalmu di bawah kaki gunung perkasa. Kamu memintaku menginap untuk kau tunjukkan pekatnya kabut di pagi hari. Kita melewati malam dengan membaca dongeng dan puisi. Fajar itu tak ada satu ayam pun berkokok. Hanya desah nafasmu yang teratur dan suaramu yang nyaring terdengar olehku.

 “Di kaki gunung, kami menanam pelbagai macam tanaman untuk dimakan. Juga bunga-bunga untuk kami serap keindahannya. Bunga itu anggun sebab setiap pagi mereka menelan segarnya embun,” lantas kamu memetikkanku sekuntum kenanga.

Kuhirup dalam-dalam kenanga yang kau petik untukku. Tapi malah aku yang merasa terhisap ke dalam putik-putik kenanga itu. Aku jatuh dan tak bangkit.

Kau kira aku keracunan harum kenanga. Bukan. Aku alergi terhadap fajar. Mestinya aku tidur semalaman, tapi aku tak tidur bersamamu. Segalanya yang ada pada diriku diserap oleh kaku-dinginnya fajar.

Lekas-lekas kau membaringkanku di pasir pantai yang hangat. Melewati rasi bintang anak panah yang meredup satu per satu digantikan pancaran matari. Aku membuka mata dan menatapmu. Sesaat aku ragu sebab tak ada kerlingan fajar pada senyummu. “Adakah itu kamu?”

Matari telah mencipta bayangan tegak pada setiap benda yang bernyawa maupun tidak. Bagimu, ini midnight sun mulai kamu tampak terhuyung-huyung menyerah pada kantuk. Bagiku, setengah perjalanan lagi senja akan turun bersama matari yang diiringi kawanan mega yang merah megah dan garis cakrawala yang hitam tegas. Ini gilaranku menunjukkan padamu sempurnanya senja dengan ombak yang beriak, gagak yang lewat rendah, tatapan cakrawala, dan siul dari kapal-kapal nelayan.

Sebelum semua itu datang, kamu berpamitan. Bahkan aku belum sempat kusuguhkan apa-apa.

Kamu fajar dan aku senja, kita tak bisa memaksakan kehendak bersama. Segala pesonaku sirna sebab bulir-bulir cinta lenyap bersama harapan yang jatuh kehabisan tenaga.

http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?p=617

“Aku akan senantiasa menyaksikan fajar untukmu dan kamu menyaksikan senja untukku,” kau ayunkan daguku untuk menatapmu, “akan kukirimkan sebuah pisau yang dapat memotong senja dan fajar. Senja dan fajar itu akan segera saling kita kirimkan. Di dalam potongan senja dan fajar yang diiris dengan mata pisauku, waktu akan terbunuh. Kalau kamu ingin bertemu denganku, masuklah dalam potongan fajar yang kelak kukirimkan. Kita akan bersama di dalamnya tanpa kamu perlu roboh dan aku tak kehilangan kerling fajar.”

Aku menanti mata pisau yang kau janjikan. Hatiku melapuk seperti karst pantai yang membentuk dolina, berlubang dan keropos. Mulailah tersebar penyakit gerowong di dalam dada yang tak bisa disembuhkan oleh dukun dan tabib manapun. Belakangan kudengar dari penduduk di sekitar rasi bintang anak panah, kaupun juga roboh dibunuh penyakit yang sama. “Aduhai, Kasihku, kau mendahuluiku mati lantaran rindu,” aku tersedu-sedu.

Belakangan kudengar lagi dari penduduk rasi bintang anak panah bahwa mata pisaumu dicuri oleh orang gila yang menernakkan kunang-kunang menjadi sebuah menara hijau kekuning-kuningan kuning kehijau-hijauan. Ia orang gunung yang tiba-tiba jatuh cinta pada senja dan ingin memotongnya untuk pujaan hatinya. Kudengar lagi, senja itu sudah dikirimkan pada pujaannya, Alina, yang ternyata tak pernah mencintainya.

Kuremas habis buku Sepotong Senja Untuk Pacarku yang mengisahkan seluruh akibat dari mata pisau yang dicuri itu. Seorang baik dari rasi anak panah menghadiahiku buku itu untuk pelipur lara. Kukecup tangannya sebab aku seperti hidup lagi dari kehancuran.

Selamanya senja tak berarti lagi sebab ia telah hilang dipotong. Toh tak ada lagi kekasihku sehingga senja tak perlu kukenang. Akan kudapatkan kembali mata pisau itu dari tangan Sukab yang mencintai Alina di ujung dunia. Dan segera kupotong fajar kabut pekat untuk kuboyong ke pantai. Akan kusulam, menambal langit senja yang lubang seperti dolina.

*untuk SGA dan lelaki dengan senyum kerling fajar

Minggu, 26 Februari 2012

Masa dalam Secangkir Cokelat


Kita bercengkerama dalam tiga hal, masa lalu, kini dan depan. Suatu sore kita berteduh dari guyuran hujan di tengah perjalanan menyusuri sungai. Ditemani rintik hujan yang ritmis, aku terdorong memantik pembicaraan tentang yang sudah terlewat, tentang bagian dirimu sebelum aku datang.

Masa adalah jarak. Ketika kita membicarakan masa lalu, rasanya wajahmu menjauh puluhan meter. Suaramu dan suaraku tertelan keriuhan zaman. Di mataku, masa lalumu adalah ilusi. Serupa dongeng sebelum tidur yang diam-diam tertanam kuat dalam alam bawah sadar.

Tiap kali tabir masa lalu terbuka, seperti ada gulungan ombak yang siap menenggalamkanku hidup-hidup. Sebenarnya aku bisa saja tak peduli pada masa lalumu. Tapi kalau aku benar mencintaimu, aku harus menyiapkan dada yang lapang untuk menerima sepenuhnya dirimu, termasuk masa lalumu.

Ada guntur yang menyambar jika potret indah masa lalumu datang sedetik-sedetik bersama kilat. Masa lalu bukan hanya tentang siapa yang datang sebelum aku, tapi juga bagaimana senimu melukis dinding-dinding kehidupanmu. Gambaran khas remajamu terpancar jelas, menantang dan jenaka.

Sebagian dari masa lalu barangkali adalah kesalahan. Setiap orang yang datang sebelum kamu, pada zaman ini, merupakan cinta yang salah. Dalam masa ini, kamu adalah cinta yang benar, meski tidak menutup kemungkinan juga akan menjadi kesalahan. Kesalahan itu pahit didengar, ngilu sekujur tubuh merasakannya. Sendi-sendi tubuhku menguatkanku bahwa kini kamu lah kenyataan, mengesampingkan benar atau salah.

“Bukan aku tak mau membagi masa laluku padamu. Hanya saja, jika lantas kamu diam usai mendengarkan, itu yang membuatku keberatan. Aku keberatan melihatmu gelisah pada masa lalu yang kini hanya ilusi,” seluruh tubuhmu berbahasa kepadaku.


Aku dan kamu sama dalam menyikapi masa lalu. Tak ada yang dibuang, dibakar, dihapus. Semuanya dibiarkan saja hidup dalam masa lalu. Membuang, membakar, menghapus adalah perbuatan tidak jujur pada diri sendiri. Semakin usaha-usaha itu dilakukan menunjukkan betapa lemahnya kita menghadapi masa yang tak akan kembali.

Waktu tak akan kembali beserta segala yang terjadi. Karena itu, masa lalu tidak patut ditakuti. Berdamai saja dengan masa lalu sebab roda zaman menjadikan pahit menjadi tawar. Tapi ia memoles yang indah menjadi semakin berkesan.

“Masa lalumu tak bisa kuhapus, kenangan itu punya hak untuk hidup. Demikian pula masa laluku.  Waktu hanya bisa lewat, ia tak bisa dibunuh,” aku memecah keheningan.

Seteguk demi seteguk cokelat panas melelehkan kepahitan yang menyumbat tenggorokan, meluruhkan kebekuan hawa. Masa lalu adalah tegukan cokelat yang telah tertelan. Sisa cokelat yang tinggal separuh cangkir itu adalah masa depan yang menunggu dinikmati. Dinginnya udara di bawah hujan sungguh tak mengurangi kehangatan senyummu dan kalimat-kalimatmu yang melapangkan. Kamu adalah seduhan cokelatku yang mencampur pahit dan manis menjadi kenikmatan yang senantiasa disyukuri.

“Hujan sudah lumayan reda, Sayang. Ujung sungai ini masih jauh. Kita berlomba dengan matahari. Mari, kita susuri selagi bisa. Nanti kita akan tahu apa yang kita temukan saat sampai di sana,” kita lekas beranjak meninggalkan butir-butir hujan yang kini menggenangi alas kaki.

Krapyak, 26 Februari 2012

Rabu, 15 Februari 2012

Semesta Tak Mampu Menampung Tiga Huruf Ini


Kami merindui Ibu bukan dengan bayangan masakan, melainkan hangatnya pelukan..

Pelukan Ibu kami tiada duanya di dunia ini. Sebab, Ibu memeluk dengan kasih dan doa-doa. Dalam setiap pertemuan, seperti semua orang tua, Ibu selalu berpetuah, berbagi curahan, dan terkadang mengijazahkan amalan.

Ibu sudah sakit sejak aku SD. Sakit semacam pusing yang menyerang saraf tulang belakang. Setiap hari, Ibu berperang dengan rasa sakitnya. Ibu pernah bedrest selama sesemester ketika saya SMA. Banyak jalan telah ditempuh. Syukur, berangsur-angsur keadaan Ibu membaik, meski belum sepenuhnya pulih.

Dalam sakit, Ibu masih bisa melakukan banyak hal. Di antaranya, ngurip-nguripi pondok dan madrasah tinggalan Abah. Kini, Ibu memelihara puluhan anak dhu’afa yang Ibu tanggung hidup dan pendidikannya. 

Ibu sangat mencintai dan dicintai Ayah. Ayah adalah tipe orang yang jauh dari karakter romantis. Beliau pendiam, kesehariannya ngaji dengan santri, ke madrasah, ngimami jam’ah, ngaji lagi sampai waktu tidurnya. Di antara keletihannya, Ibu terkadang mengeluhkan sakitnya. Ayah mengelus-elus Ibu sambil berdoa. Bagi Ibu, Ayah adalah lelaki yang sangat sabar. Kata Ibu, kalau bukan Ayah, barangkali Ibu sudah ‘dibuang’ sejak dulu karena sakitnya.

Saya meyakini, kebaikan Ayah Ibu menjadi salah satu penentu kebaikan-kebaikan yang menimpa kami, anak-anaknya. Melihat kemandirian Mas Im dan kecerdasan Neng Nova adalah hal yang sangat patut disyukuri. Kami menuruni banyak hal dari Ibu yang dzahir dan batin. Tapi belum ada satu pun dari kami bertiga yang mewarisi keistiqamahan Ayah.  Barangkali istiqomah memang prestasi dengan kegigihan sendiri, bukan diturunkan.

Nasi goreng buatan Ibu belum pernah menuai pujian. Tapi, dorongan Ibu yang membuat Neng menjadi jagoan mimbar dan Mas yang egaliter adalah pancaran daya tiada tara. Belum lagi, banyak santri yang berhasil mengembangkan diri dengan sentuhan Ibu. Tiap kali saya merasa rapuh, serasa hanya Ibu yang mampu menyokong saya dalam pelukannya.

Selalu ada semacam rasa gagal menulis tentang Ibu, apalagi menaati Ibu. 

Ibu, tiga huruf yang tafsirnya seluruh ruang hampa di mana semesta ini menggantung pun tidak cukup menampung.  Maka, entah apa arti sekelumit tulisan ini selain kelegaan hati yang sesaat.

Hamparan kasur, malam kamis dengan latar musik diba'an Gus Kelik     


nb: catatan tentang Ibu muncul dari pengalaman-pengalaman yang barangkali setiap orang merasakannya, tapi entah kenapa senantiasa terasa spesial.

Kamis, 09 Februari 2012

Gempita Anak-anak

Sebulan ini, kehidupan saya tiba-tiba riuh dengan anak kecil. Sejak Januari, saya menjadi tenaga pengajar di Homeschooling Kak Seto (HSKS) Yogyakarta. Saya tidak punya latar belakang jurusan pendidikan, hanya saja merasa passion-nya di situ, mengajar.

Kondisi di HSKS pada awalnya cukup menekan saya. Saya yang sering menganggur diharuskan masuk lima hari dalam seminggu. Karena ada tutor yang ambil cuti jelang ujian pendadaran, jam mengajar saya pun padat. Satu hal yang kadang membuat saya ragu berangkat yakni seorang murid y`ng mempunyai kecerdasan kinestetik. Sejak awal pertemuan kami, dia membuat saya capek alang kepalang. Lari ke sana- ke sini, susah belajar, hanya mau main-main. Saya kerap kehilangan kendali terhadapnya, akibatnya kami saling ilfil.

Suatu saat, ia minta belajar di taman kampus depan sekolah kami. Letak sekolah kami di bilangan Seturan tepat di depan kampus YKPN Veteran. Kami berdua memasuki gerbang kampus dengan membawa sebungkus nasi kucing hasil beli di angkringan sebelah sekolah. Di taman itu, ada enam mahasiswa sedang berdiskusi.

Ny, sebut saja begitu, usai menghabiskan nasi yang dibawa. Dia melihat ke atas pohon cemara yang mengelilingi taman, “Kak, itu sarang burung ya?” Benar, di sela-sela dahan cemara yang rimbun itu terlihat ada sarang burung. Ny memulai pembicaraan bahwa ia ingin memelihara anak burung atau anak ayam. Tiba-tiba ia tergerak, “Kak, kita cari telur burung di situ, yuk!” Ny menunjuk serumpunan rumput yang masing-masing rumpun menggelembung gemuk. Saya tidak paham itu rumput jenis apa, semacam perdu untuk tumbuhan hias. “Kak Ny, telur burung itu adanya di atas, ga ada di bawah sini,” kataku mengelak.

Ny bersih kukuh ingin mencari telur di rumpunan rumput itu. Dia mengambil patahan ranting, memberikan bagian yang lain padaku, lalu kami pun mengelilingi rerumputan untuk mencari telur dengan bantuan ranting. Saya menurutinya sambil memberi pengertian bahwa di situ tidak ada telur. Sejujurnya, saya malu dengan sekumpulan mahasiswa YKPN, barangkali mereka pikir mau-maunya saya menuruti imajinasi anak kecil yang probabilitasnya rendah.

Ny berteriak girang. Tak dinyana, ia berhasil menemukan telur ayam di tengah salah satu rumpun rumput. Saya langsung membuang pandang ke sekeliling taman, tidak ada seekor ayam pun di situ, juga tak ada kandang. Saya masih bengong karena tak habis pikir, bisa-bisanya ada telur di situ. “Tuh kan, Kak Bila sih ga ada percaya sama aku,” ucap Ny dengan bangga setengah sebal. Saya menyesal lantaran tidak memercayai Ny. Tapi saya bersyukur, saya jadi punya alasan untuk mengajaknya kembali ke sekolah. Di tengah jalan, entah bagaimana, Ny menjatuhkan telurnya. Ia kecewa berat.

Banyak cerita di Homeschooling, setiap hari kisahnya senantiasa berbeda. Saya kadang merasa gagal dan sebal. Tapi, kalau dipikir dengan jernih, ini adalah tantangan untuk bisa mengambil hati satu per satu siswa HSKS.

Awal bulan Februari ini, saya ambil cuti seminggu untuk pulang ke rumah di Jombang. Satu-satunya yang terus saya pikirkan sebelum pulang adalah mencari oleh-oleh untuk Nameera, keponakan saya. Sepulang dari HSKS, saya mampir ke Gardena untuk membeli sebuah album foto yang akan saya isi foto anggota keluarga. Khususnya, Nameera dan ayah bundanya. Agar Nameera senantiasa merasa dekat dengan Bunda. Saya membayangkan Nameera akan memeluk album foto itu sampai ia tertidur. Tapi, hadiah itu belum jadi saya bawa pulang. Saya membawakan boneka robot kelinci yang bisa bunyi dan loncat.

Awalnya, Nameera pilek. Biasanya Na, begitu panggilan kesayangannya, jago makan, apapun dilahap. Tapi sekarang, ia ogah makan, susah tidur, dan sering menangis. Saya dan emak perawat Nameera terjaga tengah malam lantaran tangisan Na tak dapat dibendung. Mungkin ini hal biasa bagi setiap anak balita yang sakit. Tapi, tidak biasa bagi saya yang tidak punya adik dan belum punya anak. Na lunglai dalam gendongan saya, badannya hangat. Na tergolong anak yang tegar, sebab ia dan kedua orang tuanya saling mencintai dengan jarak.

Tidak Mudah Menjadi Orang Tua

Pengalaman sebulan belakangan ini terus saja menekan saya, ternyata menjadi orang tua itu tidak mudah. Saya lantas melayang pada bayang-bayang bagaimana orang tua saya dulu membesarkan saya dan kedua kakak saya hingga jadi seperti ini. Pasti bukan proses yang mudah.

Katanya, hindari kata ‘jangan’ pada anak-anak sebab kata itu tidak efektif untuk mencegah tingkah mereka. Tapi, pada kenyataannya, itu sangat sulit dipraktikkan. Saya harus menahan diri dan memutar otak agar tidak berkata ‘jangan’ pada Ny. Saya belajar mengelola emosi ketika menghadapi Ny yang jago lari dan Na yang rewel.

Tapi, dalam kondisi sehat, Na adalah anak yang cerdas dan menyenangkan. Di usia 13 bulan, dia sudah bisa berjalan cepat dan mulai ngomong. Na anak yang beruntung dengan kecerdasan dan kelembutan hatinya. Na adalah anugerah bagi kami yang menyayanginya. Tidak butuh waktu lama untuk jatuh hati pada matanya yang indah.

Mendidik Na yang cerdas, bagiku, juga tantangan. Di usia emas, di tangan yang tepat, Na akan tumbuh luar biasa. Dia sangat mandiri, bisa makan sendiri dan tahu bagaimana membantu orang yang memakaikannya baju. Na membantu kami untuk mendidiknya.

Ragam anak seperti bintang yang bertebaran di langit, tak terhitung. Punya beberapa anak, orang tua dituntut untuk memperlakukan masing-masing anak sesuai kapasitasnya. Banyak anak gagal karena tak kuat menanggung tuntutan orang tua yang di luar kemampuannya.

Lebih dari metode-metode mendidik, saya berkeyakinan bahwa nasib anak dipengaruhi oleh zaman jauh sebelum ia ada. Anak yang baik adalah buah dari amal orang tuanya yang baik jauh-jauh hari. Amal baik anak adalah jariyah orang tua. Doa-doa orang tua merupakan kekuatan utama dalam membentuk karakter anak. Sebelum punya anak, saya ingin mencapai suatu hal yang semoga menjadi lantaran bagi kebaikan anak saya kelak yang bahkan belum terbayangkan rupanya.

Tambakberas, 9 Februari 2012

 
  

Senin, 06 Februari 2012

Haramain: Rindu yang senantiasa


Shubuh hari ini, tiba-tiba kurasa, kucium aromanya.. kuputar ingatanku tentang kakiku yang  pernah melangkah di tengah gelapnya sepertiga malam, di bawah temaram lampu yang menjulang tinggi. Di dalam keramaian orang yang melangkah sama. Tujuan yang satu.

Madinah

Saat itu di Madinah, udara dingin sekali. Merobek pertahanan kulit. Menusuk ke dalam daging dan tulang. Orang selalu bilang, Umroh lebih mudah dari Haji. Bukan hanya soal tak harus ke Arofah, Muzdalifah, dan Jamarat, tapi juga karena suasana lebih lengang. Jama'ah relatif mudah cari penginapan yang dekat Masjid. Penginapanku berada di sebelah utara Masjid Nabawi, tepat di tikungan jalan. Hotel Movenpick yang mewah itu hanya seseberangan mata ke arah selatan. Ia selalu kulewati tiap kali ke Masjid. Menikung ke timur, sudah masuk pelataran Masjid. Tiang-tiang lampu di pelataran Masjid Nabawi tampak seperti kuncup bunga mawar. Jika matahari sudah muncul, ia merekah serupa mawar raksasa, jadi peneduh bagi tiap orang yang melangkah di bawahnya. Cahaya lampu pun padam seketika. Pelataran Masjid itu luas sekali. Orang yang berada di depan pintu masjid sana terlihat sekecil pensil. 

Di samping kiri, ada gerbang tangga menuju kamar mandi dan parkiran bawah tanah. Lantas di seberang kananku, pintu di bawah kubah empat itu selalu ramai dilalui orang. Aku masih terus ke timur, menuju pintu bertuliskan lin-Nisaa', untuk perempuan. Di depan pintu, buluku bergidik, nyaliku menciut, melihat para perempuan Arab yang besar-besar itu menjaga pintu. Mereka memeriksa barang bawaan jama'ah perempuan. Kutanyakan pada Ibu, apa yang mereka cari? Barang elektronik tak boleh dibawa masuk, jawabnya. 

Selangkah demi langkah antrian, kami tiba juga di hadapan para Azkar. Tak satu inci pun dari kulit mereka terlihat. Ada yang matanya masih terbuka, ada juga yang ditutup kain hitam transparan. Mereka mengacakadut tas kami. Ibu ketahuan bawa ponsel dan langsung disuruh keluar. Kami keluar antrian dan menata ulang isi tas, sedemikan rupa, ponsel itu tak lagi terlihat di permukaan. Kami pun lolos masuk. Padahal aku menggembol kamera pocket di saku rok. Hiruk-pikuk di sekitar pintu terus terjadi sepanjang hari. Jika ketahuan ada perempuan Indonesia yang melanggar dan tetap nyelonong masuk, Azkar pun menjulurkan tangan sambil berteriak, "Siti Rohmah.. Siti Rohmah..". Semua perempuan Indonesia punya nama seragam di sana. Tak peduli apa yang tertulis di kalung identitas yang kami kenakan atau yang termaktub secara resmi di dalam paspor. Aku menyebut mereka,Dementor. :p

Ornamen langit-langit Masjid mengesankan, berlekuk-lekuk, berbunga-bunga. Dominan warna abu-abu. Di Masjidil Haram, akan ditemui langit-langit dengan gaya serupa. Tapi di sana, warnanya lebih ramai. Kami duduk di atas sajadah massal. Tergelar panjang, berisi puluhan kotak. Masjid sudah cukup penuh meski shubuh belum tiba. Pernah kucoba mengambil foto di dalam masjid, lalu aku diingatkan oleh khadam Masjid. Seragamnya burqoh dan gamis merah. Dari pawakannya, ia jelas bukan orang Arab. Ternyata TKW asal Cilacap. Terhormat sekali menjadi pahlawan devisa sekaligus pelayan Masjid mulia. Interaksi mereka dengan jama'ah Indonesia yang lebih sering daripada TKI yang bekerja jadi PRT juga bawa keberkahan tersendiri. Mereka sasaran shodaqoh para jama'aah Indonesia.

Sejak memasuki Masjid pertama kali, aku punya tugas rutin, mengisi botol dengan air zam-zam. Air itu untuk persediaanku dan Ibu selama berjam-jam di dalam Masjid. Di sejumlah titik, berderet puluhan tempat air lengkap dengan gelasnya. Tinggal buka katupnya, air mengcur penuhi botol. Ada dua pilihan, air biasa dan air dengan suhu lebih rendah yang dilabeli mubarrod, didinginkan. Aku lebih suka air dingin, tapi Ibu tidak suka. Maka sambil menunggu isi botol penuh dengan air biasa, aku ambil gelas, meneguk air zam-zam dingin.

Aku sempat berkenalan dengan seorang perempuan Mesir bernama Sarah, kalau tak keliru. Ia seorang dosen Arsitek di Universitas Kairo. Tubuhnya ceking menjulang, matanya tegas, senyumnya tulus. Mengobrol singkat dengannya, aku jadi membayangkan perdaban keilmuan Islam di Kairo yang luar biasa. Ibu lantas berceramah tentang integrasi ilmu padaku.

Aku dan Ibu sering tiba di penginapan saat jam makan sudah lewat. Pelayan katering yang orang Madura itu tak mau melayani kami lagi. Terpaksa kami menulusuri pertokoan, mencari tempat makan yang kira-kira pas di lidah. Tak lagi tertarik makan nasi, aku memilih kios kebab. Kebab itu berisi daging ayam cacah yang sudah diolah dengan minyak samin dan berbagai rempah serta sayur. Penjual kebab, langsung saja mengisikan cacahan berbagai bahan itu ke dalam lilitan kulit tepung yang lalu diolesi saus dan mayones.

Sudah beberapa kali ke Masjid, aku belum berkesempatan ke Roudloh. Katanya, bagi perempuan, Roudloh hanya bisa dimasuki pada jam-jam tertentu. Bada dzuhur itu, terdengar kabar, akses bagi jam'aah perempuan ke Roudloh dibuka. Maka kami pun bersiap di depan sekat kayu pahatan yang memisahkan ruang jama'ah lelaki dan perempuan. Sekat itu ternyata pintu. Para perempuan memenuhi muka pintu, mengobrol, dan berdesak-desakan. Lama-lama, kami saling dorong. Di bagian depan, orang mengetuk-ngetuk pintu tak sabar, melonglong, memrotes orang di sebelah atau belakangnya yang mulai mengganggu. Kami seperti demonstran di depan gerbang DPR/MPR Senayan. 

Saat pintu dibuka, kami seperti air keluar dari sumbernya. Gelombang besar dan deras. Kami berlari mengikuti jalur labirin terbuat dari kain-kain yang diikiat antar tiang. Ternyata kami membelah masjid jatah jama'ah laki-laki. kami berlari dari bagian selatan merengsak ke utara. Di depan Roudloh, ternyata sudah ada sekelompok jama'ah perempuan, mungkin dari Iran, duduk berkumpul.

Aku dan Ibu terus bergandengan memasuki Roudloh yang sudah sesak. Roudloh terletak di antara mimbar dan kediaman Nabi. Kediaman itu abadi karena di situ juga Nabi dikebumikan. Keduanya sudah menjadi bagian dari Masjid Nabawi. Konon, doa yang dipanjatkan di Roudloh mustajabah. Maka kusampaikan segala yang jadi hajat hidup. Memohon hal-hal gaib. Karena kebaikan dunia akhirat, Ridlo dan kasih sayang Tuhan, segala itu, bagiku, gaib. Aura di sekitar Roudloh juga gaib, menentramkan.

Kami sempat berkunjung ke sejumlah tempat bersejarah, salah satunya Bukit Uhud. Di bawah bukit itu, terdapat makam
para syuhada'. Bukit ini terletak sekitar 12 km dari Madinah. Sementara, perjalanan Makkah-Madinah sekita 8 jam dengan bus. Aku terpaksa membayangkan Nabi dan kaumnya yang hijrah, berhaji, dan berdagang lewati gunung pasir dengan jarak ratusan kilometer. Tapi aku juga terkagum dengan suku Quraisy yang berjalan sejauh itu mendekat ke Madinah untuk berperang dan menang.   

Makkah

Aku, Ibu, dan Ayah sudah berihram. Kami berjalan melewati kolong jalan layang. Di beberapa malam, kutemui ada orang tua tidur beralaskan kardus di tengah jalan itu. Beberapa jama'ah meletakkan botol minuman atau bungkusan makanan di sampingnya. Lalu kami lewat di sebelah kiri Tower Zam-zam. Di pagi hari, jalanan itu penuh burung merpati abu-abu. Mereka makan di bawah lantas terbang dan hinggap di lubang-lubang gedung yang memang diperuntukkan bagi rumah mereka. 

Kami masuk melalui pintu Roqmun Wahid, Nomor Satu, Pintu Abdul Aziz. Ini adalah pintu utama yang langsung berhadapan dengan istana kerajaan. Di situ, Raja Saudi  tinggal jika berada di Makkah. Suasana di Masjidil Haram agaknya lebih leluasa daripada di Masjid Nabawi. Tidak ada sekat khusus bagi laki-laki dan perempuan. Ayah tak perlu berpisah lagi dengan Ibu dan aku. Kian ke dalam masjid, kurasa tangan yang kugenggam bergetar. Ayah di samping kiri dan Ibu di samping kanan. Ayah dan Ibu bersautan, "Nak, itu Ka'bah. itu ka'bah." kalimat itu secara ekstrinsik memang mukhotobnya padaku. Tapi sepertinya Ayah Ibu justru sedang berbicara entah dengan siapa, barangkali dengan Allah, dengan Ka'bah, atau pada semesta, betapa mereka rindu pada Ka'bah. Kami pun thowaf. Aku berada di tengah Ayah dan Ibu sebagai hijab. Aku mahrom ayah, Ibu bukan. Mereka tak bisa bersentuhan selama manasik.

Air mata terus berderai. Tubuh berdebar. Serasa ada energi besar yang terserap di sepanjang pusaran. Setelah tujuh putaran penuh, kami berhenti di Multazam. Harapan kian menjadi-jadi. Dada Sesak, terus menangis. Begitu pula orang di sekeliling kami. Usai berdoa, Ayah bertanya, "Mau cium Hajar Aswad?" Aku tak bisa bilang tidak. Ayah mengajari kami menuju hajar Aswad di tengah desakan orang, Arab maupun 'Ajm, laki-laki maupun perempuan. Kami mengantri, tapi nyaris serupa kompetisi.

Kata Ayah, kami harus terus berpegang pada pagar yang menyambungkan Multazam dan Hajar Aswad. Pagar itu berguna melindungi petugas yang jaga di atas Hajar Aswad. Ia bertugas melerai orang yang beradu dalam kompetisi mencium batu hitam, mengingatkan orang yang memasukkan kepalanya terlalu lama, pokoknya mengatur ketertiban jama'ah. Dia berada di atas kepala kami, di pojokan ka'bah, punya otoritas mengatur orang, wah jan seperti Tuhan. hehe 

Usai thowaf, lantas sa'i dan tahalluul. Aku sangat menyukai batu hijau di sisi Marwah. Tak seperti batu gurun pasir yang putih dan berkapur, batu itu seperti karang laut yang agak licin dan dingin.  Andai ketika itu ada teman dari Geologi, dia mungkin bisa menjelaskan mengapa batu itu bisa jadi begitu.

Anjuran Abah Nasrullah, di Makkah dan Madinah harus bisa khatam baca Al-Quran. Kalau haji, mungkin bisa berkali-kali khatam. Nderes itulah yang mengisi waktu kami sepanjang pekan di Makkah-Madinah. Membuat kami tahan di dalam Masjid berbekal sebotol air.

Semua itu terjadi di Rabiul Awwal tahun lalu. Sekarang sudah di penghujung Safar jelang Rabiul Awwal lagi. Rindu seperti ini bisa menjangkiti siapa saja. Tapi, buatku, ini tetap tak biasa. Rindu ziarah Makkah-Madinah terasa khusus bagi diri tiap muslim. Rindu ini privat sekalipun jutaan umat merasakan yang serupa. Aku nyaris tak mampu menahan rindu, tiap kali bersenandung, 'Allahumma yassir lana, Ya Allah, ziyaroh Makkah Madinah, Ya Allah' di ujung syi'ir mahallul qiyam. Bait itu memang tak termaktub di teks Maulid Diba' pada umumnya, baru kudapati di Pondok Krapyak.

Krapyak, suatu sabat